Ekonomi Jalan di Tempat, Sanggupkah Indonesia Hadapi MEA?

Rimanews – Tiga bulan pascapelantikan Joko Widodo, ekonomi Indonesia belum ada tanda-tanda laju perbaikan. Ekonomi Indonesia hanya jalan di tempat. Ekspektasi publik yang besar terhadap Jokowi tampaknya tak berpenaruh apa-apa terhadap geliat ekonomi. Padahal, tepat setahun lagi, Desember 2015, menjadi awal diberlakukannya perjanjian kerja sama perdagangan antarnegara di kawasan Asia Tenggara dengan nama masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) atau sering disebut “ASEAN Economic Community (AEC)”. Baca Juga Raksasa Internet Jepang Investasi Rp 664 Triliun di Amerika Pemerintah Tetapkan Patokan Harga Ayam Serbuan Produk Asing, Kinerja Industri Tekstil Terus Menurun Sejumlah pendapat, baik positif maupun negatif bermunculan dari masyarakat awam hingga pengamat ekonomi tatkala menanggapi bagaimana kelak dampak MEA 2015 terhadap perekonomian Indonesia. Apalagi sampai sekarang ada beberapa faktor pendukung ekonomi nasional seolah belum siap menyongsong MEA 2015. Salah satunya di Jawa Timur, sebagai daerah yang digadang-gadang mempunyai potensi perekonomian terbesar kedua di Tanah Air setelah Jakarta. Akan tetapi, dari kondisi perekonomian yang terlihat di provinsi tersebut, terutama menjelang akhir tahun 2014 justru menunjukkan situasi di luar dugaan pasar. Faktor penyebabnya, perekonomian Jatim mempertontonkan grafik yang kian turun atau dengan kata lain mengalami perlambatan. Hal itu tampak dari kekhawatiran Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) ketika kebijakan penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi telah diberlakukan oleh pemerintah. Penaikan harga komoditas tersebut yang dilakukan saat harga minyak dunia anjlok memiliki pengaruh besar akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi Jatim pada masa mendatang. Akibatnya, dari perkiraan awal pertumbuhan ekonomi Jatim sebesar 5,91 persen pada tahun 2014 maka hingga akhir tahun ini pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut mengalami revisi. Pemprov Jatim pun tidak segan memublikasikan seberapa besar perubahan proyeksinya, yakni hanya tercapai di kisaran 5,7-5,8 persen. Walau pertumbuhan ekonomi Jatim diperkirakan di bawah target pertumbuhan ekonomi sebelumnya, Hadi meyakini, angka tersebut masih akan lebih tinggi dibandingkan kinerja pertumbuhan ekonomi nasional. Padahal, dengan pengurangan subsidi BBM maka semua kegiatan yang menggunakan komoditas itu sudah dipastikan akan menaikkan harga. Hal itu lantas memunculkan dampak berkelanjutan seperti terjadi penurunan produktivitas sektor riil yang mengakibatkan produksi turun. Penurunan produksi menyebabkan pendapatan tenaga kerja juga menurun. Akhirnya, lambat-laun daya beli masyarakat kian rendah. Sementara, selama ini sektor penggerak ekonomi Jatim masih didominasi dari sektor konsumsi. Namun, nada optimis tetap datang dari pemerintah. Kepala Pusat Harmonisasi Kebijakan Perdagangan Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Djatmiko Bris Witjaksono merasa yakin kebijakan pemerintah melalui MEA tahun 2015 menjadi peluang Indonesia untuk meningkatkan perekonomian nasional. Menurutnya, selama ini masyarakat telah salah kaprah dengan anggapan mengenai MEA 2015. Pada umumnya mereka menilai dengan diberlakukannya MEA maka seluruhnya akan sangat terbuka, baik jasa, perdagangan hingga investasi. Oleh karena itu, lanjut dia, hal yang perlu diperhatikan adalah berkaitan dengan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM). Dari seluruh negara anggota ASEAN, kini produktivitas tenaga kerja Indonesia nisbi rendah karena rendahnya peningkatan kualitas pengembangan dan pendidikan SDM. Dari sisi ketersediaan infrastruktur, Indonesia memang menunjukkan perbaikan walaupun masih berada di bawah rata-rata. Pada tahun 2013-2014 rangking Indonesia berada di posisi 82 dengan skor 4,0. Pencapaian ini lebih baik dibanding tahun 2013 di peringkat 92 dengan nilai 3,7. Akan tetapi, dibandingkan negara kawasan, Indonesia hanya lebih baik dari Filipina. Sementara itu, untuk akses internet, kecepatan internet di Indonesia menduduki tiga terendah di ASEAN. Apakah dengan kesiapan seperti ini, ekonomi Indonesia di bawah Jokowi sanggup menjadi jawara minimal di kawasan? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : MEA , bisnis , Ekonomi

Sumber: RimaNews